Awalnya tali balon itu tergenggam erat di tanganku.

Angin bilang ia mau mencoba menerbangkannya. Tapi tanganku lebih kuat dari kekuatannya. Aku berteriak pada angin kalau ini satu-satunya yang kumiliki, dan tak akan kubiarkan ia merusaknya.

Waktu itu lututku berdarah karena terjatuh. Lalu aku panik dan khawatir, tapi tali balon ini masih bersamaku, jadi aku tak takut.

Tapi kian hari aku tersadar satu hal. Tali di benang itu perlahan mengiris kulit tanganku. Tanganku yang awalnya berdarah segaris, lambat laun meneteskan pekatnya cairan. Aku selalu tau jika aku akan terjatuh jika tali ini terlepas. Aku juga tau aku akan kehilangan kehangatan ini jika ia terbang. Tapi tanganku sakit.

Aku tidak bisa melepaskan tali ini. Membuatku membangun narasi untuk berhenti menghitung berapa kali tanganku terluka karena menggenggam tali ini. Tanpa sadar, luka pun sudah menjadi bagian dari tanganku sendiri.

Aku pernah coba bertanya pada balon itu, apa ia tahu tanganku berdarah karenanya. Ia hanya diam, seperti biasa. Mungkin ia juga tak tahu caranya mengaku salah.

Tanganku gemetar setiap kali angin datang lagi. Tapi aku tak tau apakah ini sebab dari rasa sakitku yang semakin tak mampu kutahan atau mungkin karena aku tak takut lagi untuk kehilangan. Maka dari itu, malam ini aku tak lagi mengeratkan genggaman.

Satu persatu tanpa aku sadari mulai melonggar sendiri, entah dalam kondisi sadar ataupun tidak.

Tanganku masih ada bekasnya. Tapi entah kenapa, malam ini luka itu tak terasa sesakit biasanya.