Apakah kehidupan hanya berisi kebahagiaan saja? Jika tidak, mengapa aku masih meracau ketika hidupku merana?
Padahal seorang pemuda di pinggir jalan yang memegang arah pernah berkata, “jalan lurus akan membawamu ke tujuanmu, tetapi tidak akan memberimu makna apa-apa.”
Aku waktu itu terlampau naif dan memilih penasaran dengan kata makna itu. Lantas kuputuskan mengikuti arahannya.
“Berbeloklah ke kiri. Lalu berjalanlah lurus sebentar. Di sana kamu akan menemukan danau penuh lumpur. Pakailah sepatu terkuat yang kamu punya untuk melewatinya. Setelah itu, kamu kana menemukan sebuah sumur untuk membersihkan badanmu. Teruskan perjalananmu, maka kamu akan menemukan tempat untuk beristirahat.”
Aku mengikuti setiap arah yang diberikannya.
Benar, ada danau penuh lumpur. Benar pula, ada sumur untuk membersihkan tubuhku. Namun setelah itu, akih-alih menemukan tempat beristirahat, aku justru berhadapan dengan pagar yang tinggi.
Sesaat kurasa tak sanggup memanjatnya. Pagar itu tak bercelah, tinggi, dan kokoh. Lelah mengutukku, tetapi aku tahu diam hanya akan membuatku semakin lelah.
Jadi aku memutuskan untuk terus melangkah.
Ternyata di balik pagar itu berdiri sebuah penginapan yang begitu nyaman hingga lelahku perlahan menguap. Malam itu kususuri peta yang menggambarkan perjalananku esok hari dengan semangat menggebu.
Anehnya ini terasa seru.
Perjalanan ini masih panjang,
Meskipun sempat terlintas pertanyaan dibenakku. Apakah seharusnya aku memilih jalan lurus sejak awal?
Namun hari ini, makna yang dulu tak begitu kupahami mulai membangun artinya sendiri di kepalaku.
Tanpa perlu kusesali.