Angin laut berhembus pelan, membawa pergi kabar dari kapal-kapal yang tak pernah berhasil pulang. Kata para pelaut, setiap kapal itu selalu menemukan gunung esnya sendiri. Kurasa aku pernah melihat kisah ini sebelumnya.

Saat itu kapal ini terombang-ambing di tengah lautan setelah menabrak gunung esnya sendiri, mendorongnya jatuh ke pusaran air. Kapal itu porak-poranda dibuatnya, namun ia tetap mencoba mengikuti irama yang diciptakan pusaran. Rasanya seperti bisa melukai sekaligus menenangkan. Sementara buih-buihnya berterbangan laksana riak-riak kecil yang perlahan memenuhi ruang kosong di lambung kapal.

Kapal itu membiarkan dirinya terus mengapung, sementara arus membawanya berkeliling semakin jauh mengenal sang pusaran. Membuatnya tak lagi mampu membedakan mana arah pulang dan mana arah menuju pusaran itu sendiri.

Rasanya kapal itu akan terjebak bersama pusaran selamanya.

Di antara detik-detik yang terus berdetak tanpa belas kasihan. Di tengah samudra yang tak terukur luasnya. Di bawah matahari yang tak kunjung meredup. Rasanya September tak pernah benar-benar usai. Seolah waktu sengaja membangun sangkar emas agar kapal dan pusaran terjebak di dalamnya.

“Aku mencintaimu,” namun kata ini hanya mampu bergema dalam batin sang kapal. “Sangat mencintaimu,” lagi-lagi hanya monolog batin yang tak pernah terdengar iramanya oleh si pusaran.

Mungkin inilah yang dirasakan Romeo maupun Juliet jika mereka menyentuh dasar laut. Lagi-lagi perasaan ini menyeruak memenuhi geledak kapal.

Kapal mendengar pusaran air bak mendengar suara yang datang dari dasar laut–sangat terdistorsi, sayup, sekaligus menenangkan. Kapal itu memilih membiarkan riuh itu semakin menjelajahi setiap sudut dirinya. Membuatnya semakin penasaran, maka ia putuskan untuk terus mendekat.

Sementara itu waktu terus berlari. Kapal ini pertama kalinya merasakan denyut jantung memukul-mukul geledak kapalnya. Adrenalin memenuhi geledak seperti ombak yang saling bertabrakan saat badai. Ia ingin bergerak, tapi ia terpana saat menatap ke atas. Sementara pusaran air semakin mendorongnya ke dasar laut. Anehnya, untuk pertama kalinya tenggelam bagi kapal menyerupai pulang.