Setiap pagi aku bertemu dia di depan cermin. Setiap pagi sidang itu dimulai tanpa pembela. Aku menjadi hakim, jaksa sekaligus algojonya. Ia hanya berdiri di sana, berperan sebagai terdakwa. Menerima semua tuduhan tanpa keberatan sedikitpun.

Fisiknya kecil dan tak menarik. Mentalnya lemah dan mudah dibodohi. Saat kuhina seperti inipun ia hanya diam. Bodoh sekali dia ini, tak ada perlawanan atas semua hinaanku sama sekali. Matanya bahkan tak bergejolak menampilkan amarah.

Namun, pagi ini berbeda. Untuk pertama kalinya ia berani menatapku. Ia tersenyum tipis, padahal tanganku sudah tak sabar ini membunuh dirinya. Bayangan gagal yang tak pernah berubah.

Tanganku gemetar, sepertinya karena aku terlalu bersemangat menyambut hari esok. Hari di mana aku tak perlu bertemu dia. Hari esok di mana bayangan pecundang ini akan lenyap selamanya. Hari esok di mana untuk pertama kalinya aku bertemu pagi tanpa persidangan.

Kami sama-sama mengucapkan selamat tinggal.

Lalu sidang terakhir telah usai. Tanpa satupun pemenang.