Kata para pengamat, kiamat akan datang pada tanggal 34 Andropries 2087.
Sejak pengumuman itu, orang-orang mulai membangun barikade mereka masing-masing. Ada yang menumpuk beton di depan rumah, ada yang mulai membangun shelter di bawah tanah, ada pula yang sekadar menutup pintu dan jendela dengan papan kayu.
Aku juga baru tahu bahwa selain membangun barikade, banyak orang mulai menghabiskan waktu mereka secara bersamaan dengan orang lain.
Mereka makan bersama, bepergian bersama, juga tidur di rumah yang sama. Mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga, kekasih, sahabat, bahkan orang-orang yang sebelumnya hanya mereka sapa ketika berpapasan. Mereka membangun ikatan lebih kuat dan membangun rasa sehidup semati lebih kuat lagi dan lagi.
Aku juga memutuskan melakukan hal yang sama. Bedanya, aku tidak terlalu peduli harus melakukannya dengan siapa. Kadangkala dengan sapu tanganku sendiri. Kadang dengan kaleng yang kutemukan tergeletak di pinggir jalan. Kadang dengan manusia. Siapa pun itu sebenarnya bukan masalah bagiku. Toh, siapa pun itu atau apa pun itu terasa sama saja.
Selain itu, setelah mengamati manusia berlalu lalang dari balik kaca di kafe favoritku bersama sapu tangan. Aku juga baru tahu mereka mulai menyusun rencana “10 Hal Yang Harus Dilakukan Sebelum Dunia Berakhir.”
Sepertinya isinya kurang lebih tentang makanan yang ingin dicoba, tempat yang wajib dikunjungi, orang-orang yang akan ditemui.
Aku juga mulai membuat hal yang sama. Hanya saja, kenyataanku lebih banyak meleset dari rencana.
Kadang aku bangun terlalu siang. Kadang hujan turun. Kadang aku melihat sesuatu yang menarik di jalan dan lupa ke mana sebenarnya aku hendak pergi.
Kalau tiba-tiba sebuah lubang hitam terbentuk di tengah kota dan menelan hampir separuh kota, sehingga berakhir pada kemacetan di pinggir jalan. Aku akan mulai menikmati langit untuk menghindari tanah.
Semenjak pengumuman itu aku juga memiliki kata favorit di semua rencana yang tak terealisasikan. Seperti, ya sudah mau bagaimana lagi atau mungkin kapan-kapan toh masih ada seperkian detik lagi sampai kota ini hancur.
Tinggal 3 hari lagi menuju dunia yang akan berakhir. Saat aku melirik kertas berisi rencana “10 Hal Yang Harus Dilakukan Sebelum Dunia Berakhir.” Ternyata baru 6 hal yang baru aku selesaikan.
Ya sudahlah. Dunia boleh berhenti kapan saja. Aku rasa aku sudah lama tidak menggenggamnya terlalu erat. Jadi kalau suatu hari dunia memutuskan untuk melepaskan ikatannya denganku, aku tidak merasa keberatan.