Bagi sang pujangga, pagi hari adalah saat yang tepat untuk meraih hal baru. Tapi bagi semut, pagi hari adalah saatnya ia sadar bahwa ia masih hidup.
Jika pagi hari ia masih hidup, maka ia akan bertemu dengan malam hari. Kata kelinci malam hari di rumahnya terbiasa diisi dengan keheningan, tapi di dunia semut malam hari dipenuhi bantingan baru. Entahlah remote, tempat tisu, handphone, atau benda-benda lain yang berjatuhan dari atas.
Di dunia yang dihinggapi semut, semuanya terasa terlampau besar. Jadi semut hanya mampu bersembunyi ketika dihujani barang-barang yang berjatuhan. Oh ya, kadang juga ada benda berbentuk air bening yang jatuh dari atas, saat itulah suara suara bantingan perlahan menyurut. Jika air itu telah jatuh biasanya semut baru berani tertidur saat malam.
“Perang telah usai hahaha.” Pikirnya, lalu terlelap.
Tapi jika air bening itu tak kunjung jatuh. Itu artinya ia perlu mendengar bising-bising lain yang menggetarkan tubuh kecilnya. Di susul pula teriakan dari sang wanita, sehingga semut kecil hanya bisa menutup telinga ketakutan.
Terkadang ia bahkan merasa topi usang didekatnya pun ikut merasa iba kepadanya. Yah, semut pun merasa iba kepada si semut.
Pintu itu rasanya terlalu berat untuk semut tutup, jadi ia membiarkannya terbuka dengan senang hati saja. Siapa tahu, hanya berandai andai saja. Barangkali sesuatu akan masuk malam ini dan memutuskan bahwa semut tak perlu melihat pagi lagi.
Sayangnya, ia masih melihat pagi di esok hari. Sialnya lagi, malam nanti dia harus mempersiapkan dirinya untuk menutup telinga lagi. Dan sayang seribu sayang, pagi seterusnya ternyata selalu dimulai dengan dirinya yang masih bisa membuka mata sendiri.