<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Nana BaNana</title><link>https://blog.shaleggo.site/tags/prosa/</link><description>Developer and writer.</description><generator>Hugo 0.161.1</generator><language>en</language><managingEditor>Nana BaNana</managingEditor><lastBuildDate>Mon, 03 Aug 2026 00:00:00 +0000</lastBuildDate><atom:link href="https://blog.shaleggo.site/tags/prosa/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Monolog Dari Dasar Laut</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/monolog-dari-dasar-laut/</link><pubDate>Mon, 03 Aug 2026 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/monolog-dari-dasar-laut/</guid><description><![CDATA[<p>Angin laut berhembus pelan, membawa pergi kabar dari kapal-kapal yang tak pernah berhasil pulang. Kata para pelaut, setiap kapal itu selalu menemukan gunung esnya sendiri. Kurasa aku pernah melihat kisah ini sebelumnya.</p>
<p>Saat itu kapal ini terombang-ambing di tengah lautan setelah menabrak gunung esnya sendiri, mendorongnya jatuh ke pusaran air. Kapal itu porak-poranda dibuatnya, namun ia tetap mencoba mengikuti irama yang diciptakan pusaran. Rasanya seperti bisa melukai sekaligus menenangkan. Sementara buih-buihnya berterbangan laksana riak-riak kecil yang perlahan memenuhi ruang kosong di lambung kapal.</p>
<p>Kapal itu membiarkan dirinya terus mengapung, sementara arus membawanya berkeliling semakin jauh mengenal sang pusaran. Membuatnya tak lagi mampu membedakan mana arah pulang dan mana arah menuju pusaran itu sendiri.</p>
<p>Rasanya kapal itu akan terjebak bersama pusaran selamanya.</p>
<p>Di antara detik-detik yang terus berdetak tanpa belas kasihan. Di tengah samudra yang tak terukur luasnya. Di bawah matahari yang tak kunjung meredup. Rasanya September tak pernah benar-benar usai. Seolah waktu sengaja membangun sangkar emas agar kapal dan pusaran terjebak di dalamnya.</p>
<p>&ldquo;Aku mencintaimu,&rdquo; namun kata ini hanya mampu bergema dalam batin sang kapal. &ldquo;Sangat mencintaimu,&rdquo; lagi-lagi hanya monolog batin yang tak pernah terdengar iramanya oleh si pusaran.</p>
<p>Mungkin inilah yang dirasakan Romeo maupun Juliet jika mereka menyentuh dasar laut. Lagi-lagi perasaan ini menyeruak memenuhi geledak kapal.</p>
<p>Kapal mendengar pusaran air bak mendengar suara yang datang dari dasar laut&ndash;sangat terdistorsi, sayup, sekaligus menenangkan. Kapal itu memilih membiarkan riuh itu semakin menjelajahi setiap sudut dirinya. Membuatnya semakin penasaran, maka ia putuskan untuk terus mendekat.</p>
<p>Sementara itu waktu terus berlari. Kapal ini pertama kalinya merasakan denyut jantung memukul-mukul geledak kapalnya. Adrenalin memenuhi geledak seperti ombak yang saling bertabrakan saat badai. Ia ingin bergerak, tapi ia terpana saat menatap ke atas. Sementara pusaran air semakin mendorongnya ke dasar laut. Anehnya, untuk pertama kalinya tenggelam bagi kapal menyerupai pulang.</p>
]]></description></item><item><title>Makna Kehidupan</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/makna-kehidupan/</link><pubDate>Mon, 06 Jul 2026 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/makna-kehidupan/</guid><description><![CDATA[<p>Apakah kehidupan hanya berisi kebahagiaan saja? Jika tidak, mengapa aku masih meracau ketika hidupku merana?</p>
<p>Padahal seorang pemuda di pinggir jalan yang memegang arah pernah berkata, &ldquo;jalan lurus akan membawamu ke tujuanmu, tetapi tidak akan memberimu makna apa-apa.&rdquo;</p>
<p>Aku waktu itu terlampau naif dan memilih penasaran dengan kata <code>makna</code> itu. Lantas kuputuskan mengikuti arahannya.</p>
<p>&ldquo;Berbeloklah ke kiri. Lalu berjalanlah lurus sebentar. Di sana kamu akan menemukan danau penuh lumpur. Pakailah sepatu terkuat yang kamu punya untuk melewatinya. Setelah itu, kamu kana menemukan sebuah sumur untuk membersihkan badanmu. Teruskan perjalananmu, maka kamu akan menemukan tempat untuk beristirahat.&rdquo;</p>
<p>Aku mengikuti setiap arah yang diberikannya.</p>
<p>Benar, ada danau penuh lumpur. Benar pula, ada sumur untuk membersihkan tubuhku. Namun setelah itu, akih-alih menemukan tempat beristirahat, aku justru berhadapan dengan pagar yang tinggi.</p>
<p>Sesaat kurasa tak sanggup memanjatnya. Pagar itu tak bercelah, tinggi, dan kokoh. Lelah mengutukku, tetapi aku tahu diam hanya akan membuatku semakin lelah.</p>
<p>Jadi aku memutuskan untuk terus melangkah.</p>
<p>Ternyata di balik pagar itu berdiri sebuah penginapan yang begitu nyaman hingga lelahku perlahan menguap. Malam itu kususuri peta yang menggambarkan perjalananku esok hari dengan semangat menggebu.</p>
<p>Anehnya ini terasa seru.</p>
<p>Perjalanan ini masih panjang,</p>
<p>Meskipun sempat terlintas pertanyaan dibenakku. Apakah seharusnya aku memilih jalan lurus sejak awal?</p>
<p>Namun hari ini, makna yang dulu tak begitu kupahami mulai membangun artinya sendiri di kepalaku.</p>
<p>Tanpa perlu kusesali.</p>
]]></description></item><item><title>Selain Nasi Padang, Mie Ayam, dan Pantai</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/selain-nasi-padang-mie-ayam-dan-pantai/</link><pubDate>Wed, 27 May 2026 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/selain-nasi-padang-mie-ayam-dan-pantai/</guid><description><![CDATA[<p>Seminggu lalu, aku menyukai nasi padang. Tapi hari ini nasi padang terasa biasa saja untukku. Sebulan lalu, mie ayam selalu menjadi pilihan pertama yang ingin aku makan saat jam istirahat. Namun sekarang mie ayam tak lebih kurang dari sayur kacang—aku tidak pernah menyukai sayur kacang sejak dulu.</p>
<p>Setahun lalu aku menyukai apa kira-kira? Ada harmoni yang bersuara kah saat aku menyatakan hal-hal yang saat itu aku gemari?</p>
<p>Hari ini pantai berselimut kelabu. Air itu menyentuhku, tapi tak membawa apa-apa lagi padaku. Angin itu hanya meniup rambutku, aku benci rambutku yang berantakan seperti ini. Tapi sepertinya dulu aku tak membenci angin yang membuat rambutku berantakan.</p>
<p>Kata dia aku aneh. Kataku pun begitu. Kata orang-orang aku masih aku yang biasa. Kataku tidak begitu.</p>
<p>Apalagi menurutmu yang bisa kucinta—selain hal-hal yang sudah lelah kucinta?</p>
]]></description></item><item><title>Kata Para Komet</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/kata-para-komet/</link><pubDate>Sun, 17 May 2026 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/kata-para-komet/</guid><description><![CDATA[<p>Komet A pernah berkata jika ia pernah menabrakkan dirinya pada planet biru nan megah di ujung sana, lalu kembali membaik dalam waktu hanya semalam saja. Tapi komet B bilang jika planet biru itu letaknya bukan di ujung sana, tapi di ujung situ.</p>
<p>&ldquo;Sana dan situ itu berbeda loh komet A.&rdquo; Tapi komet A tetap bersikeras jika planet biru benar-benar di ujung sana.</p>
<p>Di saat bersamaan komet C menghardik keras komet B yang berkata kalau planet biru ada di ujung situ. Padahal ia tau komet E pernah menduduki planet biru yang berada di sini 3 hari lalu.</p>
<p>Apakah planet biru memang berpindah tempat? Pikir komet D.</p>
<p>Rasanya mustahil planet biru berpindah tempat, karena saat ia melihat di ujung sana, sini maupun situ. Satu-sataunya yang terlihat ialah planet merah yang terang benderang, namun berawan gelap. Tapi yakinkah ia jikalau planet merah itu memang berwarna merah atau justru ia cenderung berwarna ungu di saat semua orang memperdebatkan planet biru.</p>
]]></description></item><item><title>Sidang Terakhir</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/sidang-terakhir/</link><pubDate>Fri, 17 Apr 2026 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/sidang-terakhir/</guid><description><![CDATA[<p>Setiap pagi aku bertemu dia di depan cermin. Setiap pagi sidang itu dimulai tanpa pembela. Aku menjadi hakim, jaksa sekaligus algojonya. Ia hanya berdiri di sana, berperan sebagai terdakwa. Menerima semua tuduhan tanpa keberatan sedikitpun.</p>
<p>Fisiknya kecil dan tak menarik. Mentalnya lemah dan mudah dibodohi. Saat kuhina seperti inipun ia hanya diam. Bodoh sekali dia ini, tak ada perlawanan atas semua hinaanku sama sekali. Matanya bahkan tak bergejolak menampilkan amarah.</p>
<p>Namun, pagi ini berbeda. Untuk pertama kalinya ia berani menatapku. Ia tersenyum tipis, padahal tanganku sudah tak sabar ini membunuh dirinya. Bayangan gagal yang tak pernah berubah.</p>
<p>Tanganku gemetar, sepertinya karena aku terlalu bersemangat menyambut hari esok. Hari di mana aku tak perlu bertemu dia. Hari esok di mana bayangan pecundang ini akan lenyap selamanya. Hari esok di mana untuk pertama kalinya aku bertemu pagi tanpa persidangan.</p>
<p>Kami sama-sama mengucapkan selamat tinggal.</p>
<p>Lalu sidang terakhir telah usai. Tanpa satupun pemenang.</p>
]]></description></item><item><title>Versi Aku</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/versi-aku/</link><pubDate>Sun, 25 Jan 2026 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/versi-aku/</guid><description><![CDATA[<p>&ldquo;Jangan letakkan dia seperti itu.&rdquo; <br>
&ldquo;Kenapa?&rdquo; <br>
&ldquo;Retaknya akan terlihat.&rdquo; <br>
&ldquo;Kenapa retaknya tak boleh terlihat?&rdquo;<br>
&ldquo;Retakan itu memalukan, tidak indah, dan cacat. Letakkan retakan itu dibelakang.&rdquo;</p>
<p>Aku mengangguk, tapi tanganku mulai meraba sisiku yang juga retak. Retakan yang ikut tumbuh bersamaku.</p>
<p>Lalu aku ikut berpindah posisi, sebab aku tahu sisi mana yang harus terlihat di depan. Menatap ke cahaya, sedangkan sisi lain berselimut hampa. Dipindah ke belakang &ndash; tak penting untuk diperlihatkan.</p>
]]></description></item><item><title>Kau benar, ini bukan tentang benang</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/kau-benar-ini-bukan-tentang-benang/</link><pubDate>Sat, 28 Jun 2025 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/kau-benar-ini-bukan-tentang-benang/</guid><description><![CDATA[<p>Kata mereka aku mahir bermain benang. Sehingga orang-orang membawa benang kusut mereka padaku. Berkata padaku untuk coba menguraikannya. Aku mencoba dengan tenang, sementara mereka menatapku dengan harap.</p>
<p>Kata mereka tanganku tenang. Itulah sebabnya benang sekusut apapun bisa kuuraikan. Kata mereka hatiku terlalu tak acuh. Itulah mengapa mereka merasa benang kusut itu bukan masalah untukku.</p>
<p>Benang-benang kusut itu ku tarik terus menerus. Dengan sabar tanganku masuk ke kanan lalu mengeluarkan ke kiri, begitupun sebaliknya. Lilitan seerat apapun aku coba uraikan. Rasa-rasanya tanganku sudah terbiasa—bahkan terlalu terbiasa.</p>
<p>Selang beberapa tahun benang kusut mereka membentuk bulan sabit—terlihat indah. Tapi tidak dengan benangku, benangku tetap menyimpul kusut. Tapi tak apa, karena aku pintar mengurai benang.</p>
<p>Aku bangga sekali karena aku mahir bermain benang</p>
<p>Ps : tapi ini bukan tentang benang</p>
]]></description></item><item><title>'Rumah' itu</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/rumah-itu/</link><pubDate>Sun, 22 Jun 2025 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/rumah-itu/</guid><description><![CDATA[<p>Rumah itu berdiri sendirian.</p>
<p>Di tengah lautan mati tak berpenghuni. Tanpa satupun hal berniat untuk berbagi napas dengan &lsquo;rumah&rsquo; itu. Baginya hanya satu hal yang seringkali menyapa, hanya ombak. Ombak yang mendesir kuat, menabrak tiap sisi pondasinya—kian lama mengikis pijakannya.</p>
<p>Tapi ia tetap berdiri kokoh. Bukan pilihan bagi &lsquo;rumah&rsquo; itu. Tapi keharusan. Kadang, ia berharap roboh saja. Tapi bahkan untuk roboh pun, ia merasa berat—ia berat menjadi lemah.</p>
<p>Rumah itu tetap kosong, sendirian, dan menyepi di lautan mati.</p>
]]></description></item><item><title>Ketika Sayap Tak Lagi Menunjukkan Keinginannya</title><link>https://blog.shaleggo.site/posts/ketika-sayap-tak-lagi-menunjukkan-keinginannya/</link><pubDate>Mon, 27 Jan 2025 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://blog.shaleggo.site/posts/ketika-sayap-tak-lagi-menunjukkan-keinginannya/</guid><description><![CDATA[<p>Semua orang di sini selalu tumbuh dengan sayap. Pada anak-anak, sayap itu mungil belum bisa membawanya terbang. Pada remaja, kurasa sayap-sayap itulah yang berada di masa emasnya, gemar terbang ke berbagai arah &ndash; meskipun terkadang salah arah. Pada seorang ayah, sayap itu menua namun terasa sangat kokoh di punggungnya. Sayangnya pada ibu sayap itu menghilang, terlihat bekas luka yang mengering, tanda sayap itu terpotong secara paksa.</p>
<p>&ldquo;Apa suatu saat aku harus jadi seorang ibu seperti Ibu juga?&rdquo;</p>
<p>Ibu terseyum seraya menjawab, &ldquo;tentu saja, menjadi seorang ibu kan pekerjaan yang sangat mulia.&rdquo;</p>
<p>Aku diam mendengar, lalu menggumam sesuatu yang ibu tak akan kubiarkan mendengar.</p>
<p>&ldquo;Menurutku tidak begitu.&rdquo;</p>
<p>Aku tidak ingin mulia.
Aku tidak ingin menjadi seorang ibu.</p>
<p>Namun semua orang terkesiap saat monolog batin ini berubah menjadi suara. Kata mereka, aku perempuan yang salah arah. Padahal sejak itu tak semua yang terarah mampu membentangkan kembali sayapnya.</p>
<p>Jika memang semua melihat itu sebagai hal yang mulia maka tak apa, karena langit terlihat lebih indah dari bawah sini. Walaupun mulai mengabur tertutup air lautan. Semakin jauh berkelana di tempat ini, hanya gelap yang kutemui dengan napas yang kian mencekik. Tapi tak apa, karena saat aku menoleh ke punggung, sayapku masih tetap utuh.</p>
]]></description></item></channel></rss>